ONE WEEK ONE HADITS

Jum’at, 24 Rabi’ul Akhir 1439 H / 11 Januari 2018 M

______________________________________

Hadits 1

Dari sahabat Umar bin Al-Khathab Radhiyallahu Anhu berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Setiap amalan pasti ada niatnya, dan (pahala) bagi setiap orang sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrah untuk Allah dan Rasulnya, maka (jihad) untuk Allah dan Rasulnya. Dan barangsiapa yang hijrah untuk dunia yang ingin dia dapatkan atau untuk wanita yang ingin dia nikahi, maka (jihad) untuk apa yang dia niatkan”.’

Hadits Riwayat Al-Bukhari (1/2), Muslim (6/48), Ahmad (1/25), Abu Daud (2201), Ibnu Majah (4227), At-Tirmidzi (1647), An-Nasa’i (1/58), dan yang lainnya.

Hadits ini Shohih Ghorib karena dari seluruh perawi hadits (Al-Bukhari dan yang lainnya) meriwayatkan hadits ini dari Yahya bin Sa’id, dan Yahya meriwayatkan hanya dari Muhammad bin Ibrahim At-Taimy, dan Muhammad hanya meriwayatkan dari ‘Alqomah bin Waqqash Al-Laitsy, dan ‘Alqomah hanya meriwayatkan dari Umar bin Al-Khathab Radhiyallahu Anhu.

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap amalan pasti ada niatnya. Sebagian ulama’ mengartikan setiap amalan yang bagus atau amalan yang diterima pasti ada niatnya, dari sini kita simpulkan amalan yang terdapat didalamnya niat adalah amalan yang membutuhkan niat dari ibadah, adapun kebiasaan kita seperti makan, minum, berpakaian, dan yang lainya maka tidak membutuhkan niat sedikitpun. Sebagian (ulama’) yang lainnya tidak mengkhususkan ibadah dari seluruh amalan, bahkan semua amalan kita baik ibadah maupun kebiasaan pasti ada niatnya.

Niat secara bahasa adalah keinginan, niat dalam istilah tidak keluar dari dua makna:

Pertama: Membedakan antara satu ibadah dan ibadah yang lainnya, seperti membedakan sholat zhuhur dengan ashar, atau puasa Ramadhan dan puasa yang lainnya. Atau membedakan ibadah dengan kebiasaan, seperti mandi besar dari junub dan mandi untuk kebersihan badan dan semisalnya.

Kedua: Membedakan tujuan amalan kita, apakah amalan kita untuk Allah saja atau untuk yang lain-Nya, atau Allah dan lain-Nya, dan inilah yang biasa kita sebt dengan keikhlasan dan cabang-cabangnya.

Niat dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kebanyakan menuju pada arti yang kedua, oleh karenanya dilafazhkan dalam Al-Qur’an kadang-kadang dengan kalimat keinginan (أراد) atau (ابتغى).

Imam Ahmad Rahimahullah berkata: Sesungguhnya pondasi islam adalah 3 hadits: hadits niat, hadits bid’ah (Hadits ke-5 dalam Arba’in), dan hadits Syubhat (Hadits ke-6 dalam Arba’in)

Suatu amalan tidak akan sempurna (diterima) kecuali dengan 2 perkara:

  1. Zhohir suatu amalan harus sesuai dengan sunnah Nabi atau yang biasa dinamakan Mutaba’ah (mengikuti Nabi)
  2. Bathin amalan tersebut tertuju pada Allah atau yang biasa kita sebut ikhlash

Fudhail bin ‘Iyadh Rohimahullah berkata: Sesungguhnya jika amalan tersebut ikhlash namun tidak benar (sesuai Nabi) maka tidak diterima, dan jika amalan tersebut benar namun tidak ikhlash maka tidak diterima.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

(( فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْ لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ))

“Barangsiapa yang menginginkan untuk bertemu dengan Rabbnya maka harus beramal dengan amalan yang benar (mengikuti Nabi) dan tidak menyekutukanku dengan sesuatu apapun (syirik)” (Al-Kahfi: 110)

Kemudian setelah Rasulullah berbicara tentang bahwasannya setiap amalan pasti ada niatnya, beliau memulai dengan memberikan satu contoh amalan dengan dua niat yang berbeda. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwasannya setiap hijrah berbeda sesuai dengan perbedaan niat dan keinginan. Barangsiapa yang hijrahnya karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta akan ilmu dan mempelajari agama islam, dan menampakkan agamanya di minoritas muslimin, maka dialah muhajir yang tujuannya untuk Allah dan Rasul-Nya, sudah cukup bagi dia untuk mendapatkan suatu kemuliaan dengan niatnya tersebut. Tapi barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia terlebih di negara kafir atau hanya untuk menikahi seorang perempuan maka hijrahnya tergantung pada niatnya dan bukan untuk Allah dan Rasul-Nya.

Semoga kita semua dilindungi oleh Allah agar tidak beribadah kecuali untuk Allah dan Rasul-Nya, karena kita cinta Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kita kepada siapapun termasuk orang tua dan anak-anak kita. Semoga kita selalu memperhatikan niat kita dan memperbaikinya agar semua amalan kita diterima oleh Allah.

Sumber: Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (Ibnu Rajab)

Penerjemah: Ghulam Hafiyyan (Guru Bidang Study Al-Wildan Islamic School 2 Bekasi)