Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu Berkata: ‘Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَيَعْنِيْهِ
“Dari kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak ada gunanya untuknya”.’

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2317), dan Ibnu Majah (3976).

Terdapat hadits yang semakna dengan hadits ini yaitu sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ واليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرَاً أَولِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam”.

Hadits ini terdapat beberapa faedah, diantaranya:

1. Sesungguhnya Islam adalah agama kebaikan seluruhnya dan kebaikan islam semuanya dilandasi oleh firman Allah Ta’ala:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْأِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh agar berbuat adil dan baik” [An-Nahl: 90]

2. Meninggalkan suatu urusan yang tidak penting adalah salah satu baiknya agama seseorang.

3. Barangsiapa yang sering berbicara tidak ada gunanya, atau ikut campur dengan urusan seseorang yang tidak ada faedahnya; semua ini menunjukkan lemahnya agamanya. Dari sini timbul pertanyaan: Apakah mengajak kebaikan dan mencegah kemunkaran (Al-Amr bil ma’ruf wa An-Nahyu anil munkar) termasuk ikut campur urusan orang lain dan tidak ada faedahnya?

Maka kita katakan: Tidak, semua itu ada faedahnya. Allah Ta’ala berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dan jadilah kalian umat yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran” [Ali Imron: 104]

Sumber: Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah li Al-Utsaimin dengan sedikit perubahan
Penerjemah: Ghulam Hafiyyan (Guru Bidang Al-Wildan Islamic School 2 Bekasi)