Menjadi seorang ibu adalah sebuah amanah yang luar biasa. Namun, dalam keseharian, terkadang seorang ibu merasa lelah, kewalahan, bahkan mudah tersulut emosi, terutama ketika harus menghadapi beberapa anak yang usianya berdekatan.
Kesibukan mengurus rumah, mendampingi anak, serta menghadapi berbagai tingkah mereka tentu tidak selalu mudah. Ada kalanya hal-hal kecil terasa begitu berat sehingga membuat emosi ibu meningkat dan akhirnya marah kepada anak.
Lalu, apa yang bisa dilakukan agar hati lebih tenang dan emosi lebih terjaga?
Ada beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan, terutama sejak mengawali hari.
1. Luangkan Waktu untuk Mendekat kepada Allah
Saat bangun tidur, luangkan waktu walaupun hanya sekitar lima menit. Gunakan waktu tersebut untuk membaca 10 ayat terakhir Surah Ali Imran.
Mungkin terlihat sederhana, tetapi membiasakan diri mengawali hari dengan mengingat Allah dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menenangkan hati sebelum menjalani berbagai aktivitas.
2. “Bertransaksi” dengan Allah
Setelah itu, niatkan seluruh aktivitas yang akan dilakukan sebagai bentuk ibadah kepada Allah.
Kita bisa bermunajat dalam hati:
“Ya Allah, pada hari ini apa yang saya lakukan semata-mata adalah ibadah kepada-Mu. Sampai saya tidur kembali, saya niatkan semua aktivitas yang saya lakukan untuk mendapatkan pahala dari-Mu.”
Dengan demikian, kehidupan kita tidak semata-mata menjadi sebuah transaksi untuk mendapatkan sesuatu dari dunia.
Kita tidak pernah tahu apakah pasangan kita hari ini akan menyenangkan hati kita atau justru membuat kita kecewa. Kita juga tidak selalu tahu apakah anak-anak akan bersikap sesuai dengan harapan kita atau justru menguji kesabaran.
Karena itu, ketika segala sesuatu diniatkan semata-mata sebagai ibadah kepada Allah, insyaallah hati akan lebih siap menghadapi berbagai keadaan.
3. Belajar Melapangkan Hati
Memiliki anak yang banyak, terlebih dengan usia yang berdekatan, terkadang dapat menimbulkan tekanan tersendiri bagi seorang ibu.
Di sinilah hati seorang ibu dituntut untuk lebih lapang.
Ketika sedang marah, kita juga perlu mengingat bahwa perkataan seorang ibu kepada anaknya dapat menjadi doa. Karena itu, penting untuk menjaga ucapan ketika emosi sedang memuncak.
Saat sedang marah, kita dapat membaca:
A’udzubillahi minasy-syaithanir-rajim
yang berarti:
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”
Semoga dengan mengingat Allah, hati menjadi lebih tenang sehingga kita tidak mudah mengucapkan sesuatu yang nantinya kita sesali.
4. Bangun Komunikasi dengan Pasangan
Komunikasi dengan pasangan juga menjadi salah satu hal penting yang perlu dijaga.
Terkadang, perkara kecil dapat terasa semakin berat ketika hanya dipendam sendiri. Dengan berkomunikasi dan saling bercerita, beban yang dirasakan dapat menjadi lebih ringan.
Berbicara dengan pasangan sebelum tidur juga merupakan hal yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.
Karena itu, jangan ragu untuk berbagi cerita dengan pasangan. Sampaikan apa yang dirasakan dengan baik, sehingga keduanya dapat saling memahami dan memberikan dukungan.
5. Suami Memberikan Quality Time kepada Istri
Hal sederhana lainnya yang dapat dilakukan adalah memberikan quality time kepada istri.
Waktu bersama, perhatian, dan kesempatan bagi seorang ibu untuk merasa didengar dan dihargai dapat menjadi hal yang sangat berarti. Dukungan dari suami dapat membantu meredakan emosi dan memberikan ruang bagi seorang ibu untuk kembali menata perasaannya.
Sebab, seorang ibu yang sehat dan bahagia akan lebih mudah menciptakan suasana rumah yang penuh dengan kebahagiaan.
Penutup
Menjadi ibu bukan berarti harus selalu kuat dan tidak pernah merasa lelah. Ada kalanya seorang ibu membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, mendekat kepada Allah, berbicara dengan pasangan, dan mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat.
Semoga beberapa tips sederhana ini dapat menjadi ikhtiar bagi para ibu untuk menjaga hati dan emosi dalam mendampingi anak-anak.
Semoga Allah memberikan kelapangan hati, kesabaran, dan kekuatan kepada setiap ibu dalam menjalankan amanahnya. Semoga dari ibu yang bahagia lahir keluarga yang penuh ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan.
Sakinah, mawaddah, warahmah.
Penulis: NNS, S. Pd. (Asatidz AL-WILDAN ISLAMIC SCHOOL 2 BEKASI)